SABTU, 14 MAR 2026, 11:24:00
Ruang Tengah Politik
Headline
“Ketika Buku Harus ‘Digratiskan’: Antara Mencerdaskan Bangsa dan Mematikan Martabat Penulis” 🏠 "TITIP ANAK KE DAYCARE, YANG PULANG MALAH TRAUMA — Ketika 'Little Aresha' Ternyata Tidak Se-Little Dosanya" "Babi itu nggak pernah minta diributkan dia cuma mau hidup tenang di kandang, eh malah jadi trending topic." "JK ngomong pake data, Jokowi ngomong pake hati eh, kita malah pusing sendiri!" 😄 Wawan Arif Terpilih Kembali sebagai Ketua IKAPI DIY Periode 2026–2031 BBM Naik Lagi: Antara Realitas Global dan Kegagalan Melindungi Daya Beli “Tapak Candi Jogja: Menyusuri Warisan Leluhur, Menemukan Kebahagiaan Baru” SIAPA SEBENARNYA YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB? HILANGNYA DANA UMAT 28 M Dua Potongan, Satu Narasi? Membaca Ahok dan JK di Antara Potongan Video dan Kepentingan Publik Ketika Mesin Mulai Berkehendak: Ancaman Senyap Cyborg atas Masa Depan Manusia Bayang-Bayang Rp5 Miliar: Antara Klarifikasi, Tuduhan, dan Kepercayaan Publik Ijasah Jokowi: Polemik Elit, Untung-Rugi Rakyat di Baliknya Retorika Kiamat dan Politik Ketakutan: Membaca Pesan Kontroversial Donald J. Trump “Reshuffle yang Dirahasiakan: Strategi Politik atau Krisis Kepercayaan?” Komunikasi Lumpuh, Ribuan Mengungsi: Bencana Beruntun Hantam Halmahera Barat dan Utara Premanisme Jalanan: Alarm Keras bagi Wajah Hukum di Yogyakarta MESIN BISNIS TANPA MANUSIA? Ketika Agentic AI Mulai Mengambil Alih Dunia Usaha 📰 IKN: Megaproyek Tanpa Nyawa? 🔥 Prediksi Panas Final FIFA Series 2026: Indonesia vs Bulgaria — Garuda Siap Menggigit! “Gratis Itu Ilusi: Ketika Kreativitas Dipaksa Tanpa Nilai” “Ketika Buku Harus ‘Digratiskan’: Antara Mencerdaskan Bangsa dan Mematikan Martabat Penulis” 🏠 "TITIP ANAK KE DAYCARE, YANG PULANG MALAH TRAUMA — Ketika 'Little Aresha' Ternyata Tidak Se-Little Dosanya" "Babi itu nggak pernah minta diributkan dia cuma mau hidup tenang di kandang, eh malah jadi trending topic." "JK ngomong pake data, Jokowi ngomong pake hati eh, kita malah pusing sendiri!" 😄 Wawan Arif Terpilih Kembali sebagai Ketua IKAPI DIY Periode 2026–2031 BBM Naik Lagi: Antara Realitas Global dan Kegagalan Melindungi Daya Beli “Tapak Candi Jogja: Menyusuri Warisan Leluhur, Menemukan Kebahagiaan Baru” SIAPA SEBENARNYA YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB? HILANGNYA DANA UMAT 28 M Dua Potongan, Satu Narasi? Membaca Ahok dan JK di Antara Potongan Video dan Kepentingan Publik Ketika Mesin Mulai Berkehendak: Ancaman Senyap Cyborg atas Masa Depan Manusia Bayang-Bayang Rp5 Miliar: Antara Klarifikasi, Tuduhan, dan Kepercayaan Publik Ijasah Jokowi: Polemik Elit, Untung-Rugi Rakyat di Baliknya Retorika Kiamat dan Politik Ketakutan: Membaca Pesan Kontroversial Donald J. Trump “Reshuffle yang Dirahasiakan: Strategi Politik atau Krisis Kepercayaan?” Komunikasi Lumpuh, Ribuan Mengungsi: Bencana Beruntun Hantam Halmahera Barat dan Utara Premanisme Jalanan: Alarm Keras bagi Wajah Hukum di Yogyakarta MESIN BISNIS TANPA MANUSIA? Ketika Agentic AI Mulai Mengambil Alih Dunia Usaha 📰 IKN: Megaproyek Tanpa Nyawa? 🔥 Prediksi Panas Final FIFA Series 2026: Indonesia vs Bulgaria — Garuda Siap Menggigit! “Gratis Itu Ilusi: Ketika Kreativitas Dipaksa Tanpa Nilai”
Premanisme Jalanan: Alarm Keras bagi Wajah Hukum di Yogyakarta
Kriminal JIM + AI - 18:17:00, 01 Apr 2026

Premanisme Jalanan: Alarm Keras bagi Wajah Hukum di Yogyakarta

Premanisme Jalanan: Alarm Keras bagi Wajah Hukum di Yogyakarta

Peristiwa kekerasan jalanan yang terjadi di kawasan Umbulharjo kembali menampar wajah penegakan hukum di kota yang selama ini dikenal sebagai “kota pelajar”. Insiden yang dipicu hal sepele teguran spontan akibat pelanggaran lalu lintas justru berujung pada aksi intimidasi dan penganiayaan yang mencerminkan satu hal: ruang publik kita belum sepenuhnya aman dari praktik premanisme. Yang paling mengkhawatirkan bukan sekadar tindakan kekerasannya, melainkan pola yang menyertainya. Pelaku yang melawan arah tanpa helm jelas sudah melanggar hukum. Namun alih-alih menyadari kesalahan, ia memilih merespons dengan agresif. Baca selengkapnya
MESIN BISNIS TANPA MANUSIA? Ketika Agentic AI Mulai Mengambil Alih Dunia Usaha
Teknologi JIM + AI - 08:11:00, 01 Apr 2026

MESIN BISNIS TANPA MANUSIA? Ketika Agentic AI Mulai Mengambil Alih Dunia Usaha

MESIN BISNIS TANPA MANUSIA? Ketika Agentic AI Mulai Mengambil Alih Dunia Usaha

YOGYAKARTA — Sebuah toko online beroperasi 24 jam. Ia mencari produk tren, menulis deskripsi, menjalankan iklan, menjawab pelanggan, hingga menghitung laba tanpa satu pun karyawan manusia yang aktif bekerja. Ini bukan fiksi ilmiah. Ini adalah wajah baru bisnis di era Agentic AI. Teknologi kecerdasan buatan kini tidak lagi sekadar alat bantu. Ia telah berevolusi menjadi “agen” yang mampu mengambil keputusan, mengeksekusi tugas, dan belajar dari hasilnya sendiri. Baca selengkapnya
📰 IKN: Megaproyek Tanpa Nyawa?
Politik JIM + AI - 07:40:00, 31 Mar 2026

📰 IKN: Megaproyek Tanpa Nyawa?

Anggota DPR dari Fraksi PDI-P, Deddy Sitorus, mengusulkan agar pejabat tinggi negara mulai benar-benar berkantor di IKN, termasuk Wakil Presiden dan para menteri. Usulan ini disampaikan dalam rapat dengan Otorita IKN pada 30 Maret 2026.

💬 Komentar Kunci Deddy Sitorus Beberapa poin penting dari pernyataannya: Gedung di IKN sudah jadi, tapi belum dimanfaatkan optimal Ia menilai banyak fasilitas negara berisiko terbengkalai. Dorong pejabat segera pindah kerja ke IKN Termasuk Wakil Presiden dan kementerian sebagai simbol keseriusan. Usulan skema bertahap Dimulai dari pejabat level dirjen yang berkantor secara bergiliran. Soroti pemborosan anggaran Menurutnya, membiarkan gedung kosong tapi tetap dibiayai perawatan adalah tidak efisien. Pernyataan yang cukup tajam:  Baca selengkapnya
🔥 Prediksi Panas Final FIFA Series 2026: Indonesia vs Bulgaria — Garuda Siap Menggigit!
Olahraga JIM + AI - 18:46:00, 30 Mar 2026

🔥 Prediksi Panas Final FIFA Series 2026: Indonesia vs Bulgaria — Garuda Siap Menggigit!

🔥 Prediksi Panas Final FIFA Series 2026: Indonesia vs Bulgaria — Garuda Siap Menggigit!

Sorotan publik sepak bola nasional tertuju ke Timnas Indonesia yang akan menghadapi tantangan serius dari Timnas Bulgaria dalam partai puncak FIFA Series 2026. Duel ini akan digelar di Stadion Gelora Bung Karno, Senin malam (30/3/2026), pukul 20.00 WIB. Atmosfer stadion dipastikan membara. Dukungan puluhan ribu suporter Merah Putih menjadi energi tambahan bagi skuad Garuda untuk menorehkan sejarah. Baca selengkapnya
“Gratis Itu Ilusi: Ketika Kreativitas Dipaksa Tanpa Nilai”
Teknologi JIM + AI - 17:53:00, 30 Mar 2026

“Gratis Itu Ilusi: Ketika Kreativitas Dipaksa Tanpa Nilai”

“Gratis Itu Ilusi: Ketika Kreativitas Dipaksa Tanpa Nilai” 

Di ruang sidang itu, bukan hanya seorang videografer yang diadili tetapi juga cara kita memandang nilai sebuah karya. Selama ini, publik sering menganggap pekerjaan kreatif seperti membuat video, menyusun ide, hingga proses editing sebagai sesuatu yang “bisa dikerjakan siapa saja”. Baca selengkapnya
BBM Naik Hari Ini! Rakyat Ditekan, Dunia Bergejolak
Politik JIM + AI - 17:12:00, 29 Mar 2026

BBM Naik Hari Ini! Rakyat Ditekan, Dunia Bergejolak

BBM Naik Hari Ini! Rakyat Ditekan, Dunia Bergejolak

Hari ini, dompet rakyat kembali diuji. Bukan karena gaya hidup, bukan pula karena konsumsi berlebihan melainkan karena keputusan yang datang dari jauh: konflik geopolitik yang memanas, dan harga energi yang ikut terseret. Baca selengkapnya
📰 EDITORIAL: Air Keras untuk Aktivis, Dingin untuk Keadilan
Politik JIM + AI - 08:09:00, 29 Mar 2026

📰 EDITORIAL: Air Keras untuk Aktivis, Dingin untuk Keadilan

📰 EDITORIAL: Air Keras untuk Aktivis, Dingin untuk Keadilan.

Di negeri yang mengaku demokratis, kritik dibalas air keras dan keadilan justru menguap seperti uap di siang bolong. Kita sering diajarkan bahwa hukum adalah panglima, dan negara hadir melindungi setiap warga. Namun setiap kali seorang aktivis diserang, narasi itu retak. Baca selengkapnya
📰 ARUS BALIK INDONESIA MEMUNCAK: Antara Tradisi, Tekanan Infrastruktur, dan Perlombaan Melawan Waktu
Terkini JIM + AI - 06:45:00, 29 Mar 2026

📰 ARUS BALIK INDONESIA MEMUNCAK: Antara Tradisi, Tekanan Infrastruktur, dan Perlombaan Me...

📰 ARUS BALIK INDONESIA MEMUNCAK: Antara Tradisi, Tekanan Infrastruktur, dan Perlombaan Melawan Waktu .

Di bawah langit yang mulai gelap, jutaan lampu kendaraan membentuk garis tanpa putus sebuah arus manusia modern yang bergerak serempak, bukan karena pilihan, tetapi karena kebutuhan. Arus balik Lebaran bukan sekadar mobilitas massal tahunan. Ia adalah potret besar tentang bagaimana sebuah bangsa bergerak: dari desa ke kota, dari ruang keluarga menuju tuntutan ekonomi. Di momen inilah, romantisme mudik berakhir dan realitas dimulai. Baca selengkapnya
Menapak Jejak Peradaban: “Tapak Candi Fun Walk #3” Satukan Generasi dalam Semangat Sehat dan Budaya
Olahraga JIM + AI - 10:13:00, 28 Mar 2026

Menapak Jejak Peradaban: “Tapak Candi Fun Walk #3” Satukan Generasi dalam Semangat Sehat d...

Menapak Jejak Peradaban: “Tapak Candi Fun Walk #3” Satukan Generasi dalam Semangat Sehat dan Budaya.

Pagi belum sepenuhnya terang ketika puluhan langkah kaki mulai bergerak menyusuri jejak sejarah. Dari sunyi yang syahdu di Candi Sambisari, lahir sebuah energi: kebersamaan lintas usia yang tak sekadar berjalan, tetapi merayakan hidup. Baca selengkapnya
Jalanan Jogja Masih Macet, Arus Wisatawan Belum Surut
Terkini JIM + AI - 20:18:00, 27 Mar 2026

Jalanan Jogja Masih Macet, Arus Wisatawan Belum Surut

LAPORAN KHUSUS | H+6 LEBARAN 2026 Jalanan Jogja Masih Macet, Arus Wisatawan Belum Surut

 Yogyakarta — Memasuki H+6 pasca Hari Raya Idul Fitri 2026, arus kendaraan di sejumlah ruas utama di Yogyakarta masih terpantau padat. Lonjakan wisatawan yang belum menunjukkan tanda-tanda surut membuat sejumlah jalur menuju destinasi wisata mengalami kemacetan panjang sejak pagi hingga malam hari. Titik Kemacetan Mengular Pantauan di lapangan menunjukkan kepadatan signifikan terjadi di kawasan pusat kota hingga jalur wisata populer. Kawasan Malioboro menjadi salah satu titik paling padat, dipenuhi kendaraan pribadi dan bus pariwisata yang bergerak lambat. Kondisi serupa juga terjadi di jalur menuju Kaliurang, di mana antrean kendaraan mengular hingga beberapa kilometer, terutama pada siang hari. Sementara itu, akses menuju Pantai Parangtritis mengalami kepadatan ekstrem, dengan waktu tempuh yang meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Wisatawan Masih Membeludak Berdasarkan data sementara dari Dinas Pariwisata DIY, tingkat kunjungan wisatawan masih tinggi meski telah melewati puncak arus mudik dan balik. Banyak wisatawan memanfaatkan sisa masa libur untuk berwisata bersama keluarga. “Ini fenomena yang hampir terjadi setiap tahun. Setelah silaturahmi selesai, masyarakat memilih berlibur sebelum kembali beraktivitas,” ujar salah satu petugas lalu lintas di kawasan pusat kota. Selain itu, dominasi kendaraan berpelat luar daerah turut memperlambat arus karena banyak pengendara yang belum familiar dengan kondisi jalan di Jogja. Upaya Penguraian Arus Pihak kepolisian bersama Dinas Perhubungan telah memberlakukan rekayasa lalu lintas di beberapa titik. Sistem buka-tutup jalan hingga pengalihan arus diterapkan untuk mengurai kepadatan, terutama di jalur wisata. Namun demikian, upaya tersebut belum sepenuhnya efektif mengingat tingginya volume kendaraan yang masuk secara bersamaan. Hingga malam hari, arus lalu lintas di sejumlah titik masih menunjukkan kepadatan. Diperkirakan, kondisi ini akan berlangsung hingga akhir pekan sebelum aktivitas masyarakat kembali normal. J Jogja kembali membuktikan diri sebagai magnet wisata nasional—namun di sisi lain, kemacetan H+6 Lebaran menjadi pengingat serius akan perlunya solusi transportasi yang lebih terintegrasi di masa depan. JIM+AI Baca selengkapnya
Indonesia vs Saint Kitts & Nevis: Ujian Serius atau Sekedar Formalitas?
Olahraga JIM + AI - 12:56:00, 27 Mar 2026

Indonesia vs Saint Kitts & Nevis: Ujian Serius atau Sekedar Formalitas?

Indonesia vs Saint Kitts & Nevis: Ujian Serius atau Sekadar Formalitas?

Pertandingan antara Indonesia melawan Saint Kitts & Nevis malam ini pukul 20.00 WIB bukan sekadar agenda uji coba biasa. Ini adalah panggung pembuktian tentang konsistensi, kedalaman skuad, dan arah masa depan sepak bola nasional. Di atas kertas, Indonesia jelas lebih diunggulkan. Bermain di hadapan publik sendiri selalu menjadi faktor pembeda. Dukungan suporter yang fanatik seperti tergambar dalam euforia tribun merah sering kali menjadi “pemain ke-12” yang tak ternilai. Atmosfer seperti ini bukan hanya memberi energi tambahan, tetapi juga tekanan bagi tim tamu yang belum terbiasa dengan intensitas tersebut. Namun, pertandingan ini menyimpan jebakan klasik: meremehkan lawan. Saint Kitts & Nevis mungkin bukan nama besar dalam peta sepak bola dunia, tetapi justru di situlah letak bahayanya. Tim-tim dari kawasan Karibia dikenal memiliki kecepatan, kekuatan fisik, dan determinasi tinggi. Dalam laga tanpa beban, mereka bisa tampil lepas dan sering kali justru merepotkan tim yang diunggulkan. Analisis Kunci Pertandingan Penguasaan Bola: Indonesia diprediksi akan mendominasi, namun efektivitas di sepertiga akhir menjadi penentu. Transisi Bertahan: Ini titik rawan. Serangan balik cepat dari Saint Kitts & Nevis bisa menjadi ancaman serius. Mentalitas: Apakah Indonesia bermain disiplin atau justru terlalu percaya diri? Prediksi Skor Secara kualitas dan momentum, Indonesia layak difavoritkan menang. Jika mampu menjaga fokus sejak menit awal dan tidak terpancing permainan keras lawan, hasil positif sangat terbuka. Prediksi akhir: Indonesia 2 – 0 Saint Kitts & Nevis Namun, skor bukanlah satu-satunya ukuran. Yang lebih penting adalah bagaimana Indonesia menang apakah dengan permainan matang dan terstruktur, atau sekadar mengandalkan euforia kandang. Karena pada akhirnya, laga seperti ini bukan tentang menang atau kalah semata. Ini tentang seberapa siap Indonesia melangkah ke level berikutnya. JIM+AI Baca selengkapnya
Antek-Antek Asing: Ancaman Nyata Atau Narasi Politik.
Politik JIM + AI - 07:33:00, 27 Mar 2026

Antek-Antek Asing: Ancaman Nyata Atau Narasi Politik.

"Antara Ancaman Nyata dan Narasi Politik” Istilah “antek-antek asing” selalu punya daya ledak tinggi dalam politik Indonesia. Ia bukan sekadar label melainkan senjata retorika. Ketika istilah ini muncul, publik langsung dibawa pada bayangan pengkhianatan, intervensi luar, dan ancaman terhadap kedaulatan negara. Namun pertanyaannya: siapa sebenarnya yang dimaksud? Dalam praktik politik, istilah ini seringkali bersifat ambigu dan elastis. Ia bisa diarahkan ke banyak pihak: Elite politik domestik yang dianggap terlalu dekat dengan kepentingan luar negeri Kelompok ekonomi atau korporasi global yang memiliki pengaruh terhadap kebijakan nasional Aktivis atau oposisi yang mengkritik pemerintah, lalu dicurigai punya “agenda luar” Bahkan media dan intelektual, jika pandangannya dianggap tidak sejalan Masalahnya, tanpa penjelasan konkret dan bukti terbuka, istilah ini berisiko menjadi: Alat delegitimasi lawan, bukan penjelasan realitas. Bahaya dari Narasi Tanpa Kejelasan Ketika “antek asing” tidak dijelaskan secara spesifik: Publik mudah terpolarisasi Kritik bisa dianggap sebagai pengkhianatan Diskusi berubah dari substansi ke kecurigaan Padahal dalam negara demokrasi, kritik adalah bagian dari kontrol bukan ancaman. Kemungkinan Tafsir yang Lebih Rasional Ada dua kemungkinan cara membaca pernyataan seperti ini: 1. Sebagai peringatan serius Bisa jadi ada kekhawatiran nyata tentang intervensi asing baik melalui ekonomi, geopolitik, atau intelijen. Dalam konteks global saat ini, hal ini bukan mustahil. 2. Sebagai strategi politik Namun, bisa juga ini bagian dari: Konsolidasi kekuatan Membangun rasa “kita vs mereka” Menguatkan legitimasi kepemimpinan dengan menghadirkan musuh bersama Kesimpulan . Istilah “antek-antek asing” sering kali lebih banyak berbicara tentang strategi komunikasi politik daripada fakta yang terverifikasi. Yang seharusnya dituntut publik bukanlah siapa yang dituduh, tetapi: Apa buktinya? Siapa aktornya? Dan apa dampaknya bagi rakyat? Tanpa itu, narasi seperti ini hanya akan menjadi: api yang menghangatkan pendukung tetapi membakar kejernihan berpikir masyarakat. JIM+AI Baca selengkapnya
Timnas Indonesia & Pelatih Baru: Harapan Besar atau Eksperimen Berisiko?
Olahraga JIM + AI - 19:23:00, 26 Mar 2026

Timnas Indonesia & Pelatih Baru: Harapan Besar atau Eksperimen Berisiko?

⚽ Timnas Indonesia & Pelatih Baru: Harapan Besar atau Eksperimen Berisiko?

Sepak bola Indonesia tidak pernah kekurangan harapan. Tapi sering kali, yang berlimpah justru ekspektasi bukan hasil. Kini, dengan hadirnya pelatih baru, publik kembali berdiri di persimpangan: ini awal kebangkitan… atau sekadar babak baru dari eksperimen yang belum tentu berhasil? Baca selengkapnya
WFH :Siapa Untung Siapa Buntung?
Terkini JIM + AI - 11:35:00, 26 Mar 2026

WFH :Siapa Untung Siapa Buntung?

WFH: Siapa Untung, Siapa Buntung? Wacana kebijakan Work From Home (WFH) kembali menguat di tengah perubahan pola kerja pascapandemi. Pemerintah dan perusahaan mulai mempertimbangkan opsi ini bukan lagi sebagai solusi darurat, melainkan sebagai strategi jangka panjang. Namun, di balik fleksibilitas yang ditawarkan, muncul pertanyaan mendasar: siapa sebenarnya yang diuntungkan, dan siapa yang justru dirugikan? Di satu sisi, WFH menjadi angin segar bagi pekerja sektor formal berbasis digital. Karyawan di bidang teknologi, pemasaran digital, hingga administrasi merasakan efisiensi waktu dan biaya. Tidak ada lagi perjalanan panjang yang melelahkan, tidak ada kemacetan yang menguras energi. Produktivitas, dalam banyak kasus, justru meningkat karena pekerja dapat mengatur ritme kerja yang lebih personal. Bagi mereka yang tinggal di kota besar seperti Jakarta atau bahkan di wilayah penyangga seperti Yogyakarta, WFH berarti penghematan nyata—baik finansial maupun psikologis. Perusahaan pun tidak sedikit yang diuntungkan. Biaya operasional seperti listrik, sewa kantor, hingga fasilitas karyawan dapat ditekan. Bahkan, beberapa perusahaan global seperti Twitter (kini dikenal sebagai X Corp.) pernah membuka opsi kerja jarak jauh permanen sebagai bagian dari efisiensi dan transformasi budaya kerja. Namun, cerita ini tidak sepenuhnya manis. WFH secara tidak langsung menciptakan jurang baru antara mereka yang bisa bekerja dari rumah dan mereka yang tidak. Pekerja sektor informal, buruh pabrik, tenaga lapangan, hingga pelaku UMKM berbasis fisik justru berada di posisi rentan. Ketika mobilitas masyarakat menurun, daya beli ikut melemah. Warung makan di sekitar perkantoran kehilangan pelanggan, ojek pangkalan sepi penumpang, hingga jasa kebersihan dan keamanan mengalami pengurangan jam kerja. Di sinilah paradoks WFH muncul. Kebijakan yang menguntungkan sebagian kelompok, justru menjadi tekanan bagi kelompok lain. Selain itu, tidak semua pekerja WFH benar-benar “bekerja dengan nyaman”. Batas antara ruang kerja dan ruang pribadi menjadi kabur. Banyak karyawan mengaku jam kerja menjadi lebih panjang, tekanan meningkat, dan interaksi sosial berkurang drastis. Rasa kesepian dan burnout menjadi isu baru yang tidak bisa diabaikan. Pemerintah berada di posisi dilematis. Di satu sisi, WFH dapat mengurangi kemacetan, polusi, dan beban infrastruktur kota. Di sisi lain, roda ekonomi sektor informal harus tetap berputar. Kebijakan yang terlalu condong pada WFH tanpa strategi pendamping berisiko memperlebar ketimpangan ekonomi. Maka, alih-alih mempertanyakan apakah WFH harus diterapkan atau tidak, pertanyaan yang lebih relevan adalah: bagaimana merancang kebijakan WFH yang adil? Jawabannya mungkin terletak pada pendekatan hibrida menggabungkan kerja dari kantor dan dari rumah secara proporsional. Model ini memberi ruang bagi efisiensi tanpa mematikan aktivitas ekonomi di sekitar pusat kerja. Di saat yang sama, pemerintah perlu mendorong transformasi digital bagi pelaku UMKM agar mereka tidak tertinggal dalam ekosistem baru ini. WFH bukan sekadar soal lokasi kerja. Ia adalah refleksi perubahan zaman—tentang bagaimana manusia bekerja, berinteraksi, dan bertahan dalam dinamika ekonomi modern. Dan seperti setiap perubahan besar lainnya, selalu ada yang diuntungkan. Tapi, tak sedikit pula yang harus berjuang agar tidak menjadi korban. JIM+AI Baca selengkapnya
Daring yang Dibatalkan: Ketika Kebijakan Hampir Mengorbankan Akal
Terkini JIM + AI - 11:09:00, 26 Mar 2026

Daring yang Dibatalkan: Ketika Kebijakan Hampir Mengorbankan Akal

Daring Yang DIbatalkan

 Tidak semua kebijakan buruk benar-benar dilaksanakan. Sebagian cukup muncul dan itu saja sudah cukup mengkhawatirkan. Rencana pembelajaran daring yang akhirnya dibatalkan menyisakan satu pertanyaan penting: bagaimana mungkin ide ini sempat dianggap masuk akal? Kita belum lupa. Pandemi baru saja lewat, tetapi luka pendidikan masih terasa. Anak-anak kehilangan ritme belajar. Guru kewalahan mengejar kurikulum. Orang tua dipaksa menjadi “guru dadakan” tanpa persiapan. Dan di banyak tempat, “belajar daring” hanyalah nama lain dari: tugas dikirim, pemahaman hilang. Maka ketika wacana itu muncul lagi bukan karena darurat kesehatan, tetapi karena alasan efisiensi yang muncul bukan sekadar kekhawatiran, tetapi kecurigaan. Mari jujur. Pembelajaran daring bukan solusi netral. Ia adalah pilihan kebijakan dan setiap pilihan selalu punya korban. Dan kali ini, yang hampir menjadi korban adalah anak-anak. Kita sering terjebak pada logika teknokratis: bahwa pendidikan bisa dipindahkan ke layar, bahwa interaksi bisa digantikan aplikasi, bahwa kehadiran fisik hanyalah formalitas. Padahal realitasnya jauh lebih sederhana dan lebih keras: anak belajar dari manusia, bukan dari sinyal internet. Ketika kebijakan daring dipertimbangkan demi efisiensi energi, itu menunjukkan satu hal yang mengkhawatirkan: pendidikan masih dilihat sebagai variabel yang bisa “ditunda” atau “disesuaikan” tanpa konsekuensi besar. Padahal justru di sanalah kesalahan fatalnya. Efisiensi energi mungkin menyelamatkan anggaran hari ini. Tetapi penurunan kualitas pendidikan? Itu adalah utang jangka panjang yang akan dibayar oleh satu generasi penuh. Lebih jauh lagi, kita seolah lupa bahwa daring bukan hanya soal metode belajar, tetapi soal ketimpangan. Di kota besar, daring mungkin masih bisa berjalan. Di pinggiran? Di desa? Daring berubah menjadi formalitas tanpa substansi. Yang hadir bukan pembelajaran tetapi ilusi pendidikan. Sudut Pandang Keras. Yang perlu dikritisi bukan hanya kebijakan yang dibatalkan tetapi cara berpikir yang melahirkannya. Selama pendidikan masih dianggap sebagai sektor yang paling fleksibel untuk dikorbankan, maka ide-ide seperti ini akan terus muncul, lagi dan lagi, dalam bentuk yang berbeda. Hari ini alasan energi. Besok mungkin anggaran. Lusa bisa jadi efisiensi birokrasi. Dan setiap kali itu terjadi, yang dipertaruhkan tetap sama: masa depan anak-anak yang tidak pernah diajak bicara. Penutup. Pembatalan pembelajaran daring memang patut diapresiasi. Tetapi apresiasi saja tidak cukup. Kita perlu memastikan satu hal: bahwa kebijakan pendidikan tidak lagi lahir dari meja rapat yang jauh dari realitas kelas. Karena jika tidak, kita hanya akan terus beruntung bukan karena kebijakan kita benar, tetapi karena kita sempat sadar sebelum semuanya terlambat. Dan pendidikan tidak boleh bergantung pada keberuntungan. JIM+AI Baca selengkapnya
Kalender Hari Ini
-
-
00:00:00

Pilihan Editor

Indeks →
Ruang Tengah Politik