Ruang yang Sempit, Hati yang Harusnya Lapang

Terkini 29 Jul 2026 13:10 3 min read 49 views By JIM + AI

Share berita ini

Ruang yang Sempit, Hati yang Harusnya Lapang
Ruang yang Sempit, Hati yang Harusnya Lapang

Ruang yang Sempit, Hati yang Harusnya Lapang

 

Kalau itu adalah anak kita, apakah kita rela melihatnya belajar di lantai teras, sementara teman-temannya berada di dalam kelas?

 

Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Pertanyaan ini hanya mengajak kita menukar posisi sejenak. Karena keadilan selalu lebih mudah dipahami ketika yang mengalaminya adalah orang yang kita cintai.

 

Di sekolah, anak-anak datang bukan membawa identitas mayoritas atau minoritas. Mereka datang membawa mimpi, rasa ingin tahu, dan harapan untuk diperlakukan sama.

 

Mereka mungkin berbeda agama, berbeda suku, berbeda bahasa, tetapi ketika mengenakan seragam sekolah, mereka memiliki hak yang sama untuk belajar dengan layak. Itulah makna pendidikan yang sesungguhnya: menghadirkan ruang yang cukup bagi setiap anak untuk bertumbuh, tanpa ada yang merasa menjadi tamu di sekolah milik bangsanya sendiri.

 

Ruang yang Sempit, Hati yang Harusnya Lapang

 

Seorang siswa duduk di lantai teras, punggungnya membelakangi pintu kelas yang tertutup. Di tangannya ada buku dan bolpoin. Ia tetap tekun mencatat pelajaran agama yang tak lagi dapat diikutinya dari dalam ruangan. Di ujung koridor, beberapa orang dewasa berdiri berbincang. Mungkin mereka tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Namun bagi seorang anak, hal-hal kecil seperti inilah yang sering membekas paling lama.

 

Gambar ini tidak memperlihatkan kemarahan ataupun kekerasan. Yang terlihat hanyalah seorang anak yang berusaha belajar di tempat yang semestinya bukan ruang belajarnya. Dan justru karena semuanya tampak biasa, kita perlu bertanya: apakah ada sesuatu yang perlu diperbaiki?

 

Sekolah Negeri adalah Rumah Bersama

 

Langkah Disdikpora DIY untuk meminta sekolah melakukan evaluasi patut diapresiasi. Peristiwa ini sebaiknya menjadi momentum untuk memastikan bahwa setiap sekolah benar-benar siap melayani seluruh peserta didik, apa pun latar belakang agamanya. 

 

Sekolah negeri berdiri di atas kontribusi seluruh warga negara. Karena itu, menyediakan ruang belajar yang layak bagi setiap mata pelajaran agama bukanlah bentuk kemurahan hati, melainkan bagian dari pelayanan pendidikan yang adil.

 

Persoalannya bukan siapa yang salah, melainkan bagaimana sistem dapat semakin baik agar pengalaman serupa tidak terulang di sekolah mana pun.

 

Toleransi Harus Terlihat dalam Tindakan

 

Toleransi bukan hanya tentang saling menghormati dalam ucapan. Toleransi juga hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang berdampak besar: tersedianya ruang belajar, guru, jadwal, dan perhatian yang sama kepada semua siswa

 

Anak-anak belajar tentang nilai kebangsaan bukan hanya dari buku pelajaran, tetapi dari apa yang mereka alami setiap hari di sekolah.

 

Menjadikan Peristiwa Ini Sebagai Pelajaran Bersama

 

Peristiwa ini tidak perlu menjadi alasan untuk mempertentangkan kelompok agama. Justru sebaliknya, inilah kesempatan untuk menunjukkan bahwa masyarakat Yogyakarta mampu menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin dan hati yang terbuka.

 

Yang perlu diperbaiki adalah sistemnya, bukan persaudaraannya. Yang perlu diperkuat adalah kebijakannya, bukan prasangkanya.

 

Semoga kejadian ini mendorong setiap sekolah mengevaluasi fasilitasnya, pemerintah semakin peka terhadap kebutuhan seluruh peserta didik, dan masyarakat semakin menyadari bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan amanah yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

 

Yogyakarta sering disebut sebagai Kota Toleransi. Predikat itu akan tetap bermakna apabila setiap anak, tanpa memandang agamanya, dapat belajar di ruang yang sama-sama layak. Karena pada akhirnya, wajah toleransi tidak diukur dari banyaknya slogan yang kita ucapkan, melainkan dari sederhana tetapi penting: tidak ada satu pun anak yang merasa sendirian ketika sedang menuntut ilmu. JIM+AI

Ruang Tengah Politik